Oleh: lsgham | September 13, 2009

Shaf sholat wanita kok dibelakang? Bias gender tuh?

Pada suatu hari, saya ngobrol dengan seorang teman yang juga seorang aktivis gender. Walaupun sebenarnya dia adalah seorang musimah dan berjilbab, tetapi ketika ngobrol tersebut saya kaget dengan sebuah pernyataannya, “Kadang-kadang saya kok merasa Islam itu bias gender juga.” Lalu saya bertanya, “kok bisa? Contohnya seperti apa?” lalu dia berkata, “contohnya ketika sholat berjamaah, kenapa wanita duduk di belakang, bahakan shaf yang paling baik bagi wanita adalah dibelakang. Apakah itu bukannya bias gender?”

Jujur, ketika itu, saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya coba berpikir sejenak. Lalu saya berkata, “Menurutku masalah sholat ini kan masalah ibadah mahdhoh yang tata caranya sudah diatur sangat rinci oleh Allah dan Rasuk-Nya. Kita hanya menurut saja. Kita tidak boleh menambah ataupun mengurangi.” Dan jawabanku tersebut malah tidak menjawab pertanyaan dia malah membuat dia bingung. Daripada meneruskan obrolan masalah ini dimana aku belum tahu jawabannya, lalu aku ajak dia membicarakan obrolan dengan topik lain.

  Setelah kembali ke kos, pertanyaan dari teman saya tadi terus terngiang-ngiang di pikiran saya. Lalu saya coba diskusikan masalah ini dengan teman-teman saya di IMM dan saya juga cari-cari referensi buku. Saya menemukan sebuah judul buku yang bagus untuk menjawab pertanyaan itu, judulnya “Mereka bertanya, Islam Menjawab” yang diterbitkan oleh penerbit Aqwam.

Dari semua diskusi dan baca buku yang saya lakukan, saya menarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ada sebuah hadis dalam kitab shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra. tentang berdiamnya lelaki setelah salam dalam shalat. Ummu Salamah menuturkan bahwa pada masa Rasulullah jika kaum perempuan telah mengucapkan salam dalam shalat fardhu, mereka bergegas berdiri , sementara Rasulullah beserta jamaah pria tetap tinggal hingga waktu tertentu. Dan jika Rasulullah berdiri maka para lelaki itupun berdiri. Andai laki-laki sholat dibelakang perempuan, tentu ketika perempuan keluar dia harus melangkahi barisan laki-laki.
  2. Setiap seorang melakukan sholat, dia harus khusuk, memfokuskan perhatian hanya kepada Allah. Dia harus menyingkirkan segala gangguan yang dapat membuatnya memikirkan sesuatu selain Allah. Bagi seorang laki-laki, hal ini akan lebih sulit dilakukan apabila ada perempuan didepannya. Indra penglihatan laki-laki lebih sangat sensitif terhadap rangsangan, sehingga ketika perempuan sholat didepannya bisa membuat dia kurang khusuk dalam sholat. Hal ini sangat berbeda dengan perempuan yang lebih bisa sholat khusuk walaupun dibelakang laki-laki. (masalah indra yang paling sensitif pada laki-laki dan perempuan, sudah saya jelaskan pada tulisan saya yang berjudul “Pakai Jilbab, Sudah Bias Gender, Ribet, Ga Gaul, dan Gerah lagi?”)

 

Mungkin baru sebatas ini saja jawaban dari saya untuk menjawab pertanyaan dari teman saya tersebut. Jujur, saya masih belum puas dengan jawaban saya sendiri, bagi kawan-kawan yang membaca tulisan saya ini dan mempunyai jawaban yang lebih baik dari jawaban saya, saya tunggu partisipasinya untuk berbagi ilmu dengan mengisi kolom komentar dibawah tulisan ini.

 

 

Muhammad Surya

Anggota Lembaga Studi Gender & HAM

Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah DIY

2009-2010

 

Curhat Pembuka

 

Ketika aku bertanya kepada beberapa teman ceweku yang tidak pake jilbab, kenapa dia ga mau pake jilbab, jawabannya biasanya karena pake jilbab itu gerah, ribet, atau karena belum dapet hidayah. Apakah jawaban seperti ini bisa diterima?

Kebanyakan temen-temen saya yang sudah berkerudung, memiliki keyakinan bahwa jilbab itu hanya sebatas menutupi rambut, pakai baju lengan panjang, dan pakai rok atau celana panjang. Apakah seperti itu?

Orang awam banyak bertanya: kenapa wanita dalam Islam harus pakai kerudung? Kenapa harus pakai jilbab? Apa keuntungan pakai jilbab? Kenapa laki-laki batasan auratnya lebih sedikit daripada perempuan? Bias gender banget! Apakah pakai jilbab hukumnya wajib? Lalu kenapa anak-anak para tokoh Islam seperti anak pak Gusdur dan Pak Amien Rais ga pake jilbab yang tertutup, bahkan ga pake jilbab? Emang pake jilbab itu wajib?

Dari pertanyaan-pertanyaan diataslah aku mulai mencari-cari jawaban. Kenapa aku tertarik mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas, karena pertanyaan-pertanyaan itu sering ditanyakan kepadaku oleh teman-teman, sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku dan jujur ketika mereka bertanya, aku belum bisa menjawab yang membuat mereka puas. Aku hanya bisa menjawab, “karena itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya yang harus kita ikuti. Sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami taat, itu adalah semboyan bagi orang-orang yang beriman.” Tetapi jawaban seperti itu belum bisa membuat mereka terketuk hatinya. Harus ada pendekatan yang bisa membuat pikiran mereka terbuka dan cara penyampaiannya nyaman dihati. Maksudnya, argumentasi yang kita buat, bisa diterima oleh akal dan pikiran mereka, serta cara penyampaiannya yang lembut, nyaman didengarkan, nyaman dihati, disertai dengan tauladan, dan tidak terkesan menggurui. Sulit sih, jadi mubaligh atau ustad emang sulit sekali. Makanya, kita harus menghargai dan menghormati mereka walau kadangkala mereka berbuat kesalahan.

Jujur, aku merasa belum punya kualifikasi sebagai mubaligh atau ustad. Tapi aku hanyalah orang yang ingin membantu teman, sahabat, dan saudara-saudaraku yang sedang bingung, ragu, dan bimbang mengenai masalah jilbab ini.

Aku punya sebuah keyakinan, bahwa semua peraturan Allah itu pasti ada hikmahnya. Walaupun banyak diantaranya, manusia belum bisa mengetahui apa hikmah dibalik sebuah perintah. Aku yakin bahwa Islam bukan agama doktrin, tetapi agama yang logis. Walau ada bebeapa diantaranya yang logika manusia belum bisa memahaminya, tetapi aku yakin, suatu hari nanti, akal manusia akan bisa memahaminya. Kita manusia sebagai makhluk yang berakal, diwajibkan untuk terus mencari hikmah-hikmah itu, dengan terus melakukan penelitian, terus belajar, terus bertanya, terus berpikir, dan terus bereksperimen. Dengan begitu, iman kita akan semakin kuat dan umat Islam akan berjaya lagi.

 

1. Kenapa ada Perintah memakai Jilbab?

 

Begini ceritanya:

Suatu saat, dizaman Nabi Muhammad SAW masih hidup, di kota Madinah masih banyak cowo-cowo iseng yang suka godain cewe-cewe. Tidak terkecuali wanita-wanita muslimah yang masih muda-muda dan cantik-cantik. Biasanya, kayak cowo-cowo iseng zaman sekarang, mereka nongkrong dipinggir jalan atau di sisi gang. Kalau ada cewe yang lewat, mereka bersiul atau tanya-tanya ga jelas gitu lah, kira-kira hampir sama kayak cowo-cowo zaman sekarang ketika sedang godain cewe.

Para muslimah itu kesal dengan perlakukan para cowo-cowo iseng tadi pada mereka, lalu melapor kepada Nabi Muhammad SAW. Mendapat laporan seperti itu, lalu nabi memanggil para cowo-cowo iseng tadi dan menasehati mereka. Cowo-cowo iseng itu berkata bahwa mereka tidak bisa membedakan mana wanita baik-baik atau wanita muslimah dan mana cewe-cewe nakal yang suka digodain cowo kaya mereka. Mereka kira ketika cewe-cewe muslimah berjalan didepan mereka, mereka menyangka itu cewe-cewe nakal yang biasa mereka godain. Mereka ga bisa membedakannya.

Lalu selang beberapa waktu dari kejadian itu, turun ayat Al Quran Surat al Ahzab ayat 59 yang berbunyi:

 

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan Istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Dari ayat diatas, kita dapat sebuah kesimpulan bahwa tujuan memakai jilbab adalah supaya mudah dikenali sebagai seorang Muslimah dan supaya mereka tidak diganggu. Aku akan mencoba memberi ilustrasi, misalnya ada dua orang cewe kembar. Dua-duanya cantik mempesona. Yang satu pakai jilbab rapi layaknya seorang muslimah dan yang satu pakai rok mini dan baju tank top. Lalu kedua cewe ini lewat di suatu gang dimana disana banyak cowo-cowo iseng yang lagi nongkrong. Kira-kira yang bakal digodain sama cowo-cowo itu cewe yang mana? Kalau aku jadi cowo-cowo itu dan emang aku juga pernah ngalami sendiri (jujur), lebih senang godain cewe yang seksi. Itu sih dah jadi insting kelakilakian, normal lah. Dan sepengalaman saya bergaul sama temen-temen cowo, mereka sukanya godain cewe-cewe pakai baju seksi. Kalau ga percaya, coba kamu tanya pada temen-temen cowo mu, aku yakin jawabannya ga jauh beda dengan jawabanku. Jangan coba tanya hal ini pada cowo-cowo gay atau banci, pasti beda jawabannya.

 

2. Kenapa cowo suka lihat cewe seksi?

 

Seperti yang kita ketahhui, indra yang sangat sensitif dengan rangsangan seksual pada seorang cowo adalah indra penglihatannya. Baru setelah itu indra pendengaran dan indra peraba. Beda sama cewe dimana indra yang sangat sensitif dengan rangsangan seksual adalah indra peraba. Seorang laki-laki normal, kelaminnya akan ereksi dan pikirannya langsung membayangkan hal-hal yang XXXXXXX ketika melihat beberapa bagian tubuh wanita. Itulah kenapa kebanyakan cowo suka lihat film porno atau pernah lihat film porno. Dan itulah alasan mengapa cowo-cowo itu suka lihat cewe-cewe berpakaian seksi.

 

3. Kenapa cowo terangsang lihat cewe berpakaian seksi?

 

Kalau cewe suka datang bulan atau menstruasi, sebenarnya laki-laki juga ada sebuah siklus yang agak-agak mirip. Seperti yang kita ketahui, testis itu memproduksi sperma terus menerus tanpa henti. Ketika kantung sperma telah penuh, biasanya cowo akan lebih mudah terangsang atau mudah/ sering membayangkan hal-hal yang berbau seksual dan bisa juga menyebabkan mimpi basah ketika tidur. Seorang laki-laki ketika mengalami masa ini, mungkin dengan hanya melihat leher atau betis atau bahkan lengan  seorang wanita, sudah bisa membuatnya berhayal atau berpikir sesuatu yang bersifat seksual. Jujur, saya tidak berani menggambarkan seperti apa khayalan atau pikiran seorang cowo ketika mengalami hal tersebut. Berbeda ketika kantung sperma cowo sedang kekurangan sperma, ketika itu, seorang cowo memiliki kecenderungan tidak terlalu sensitif. Mungkin kalau Cuma lihat betis, lengan atau leher wanita tidak akan membuat dia terangsang atau berkhayal yang “aneh-aneh”. Walaupun cowo sedang tidak sensitif terhadap rangsangan, tetapi kalau dia lihat cewe telanjang, pasti akan terangasang. Inti bedanya ada pada tingkat kesensitifannya.

Yang ingin aku tanyakan kepada kamu wahai cewe-cewe yang ada didunia ini, apakah kalian bisa membedakan mana cowo yang sedang dalam tingkat sensitif rangsangan seksualnya tinggi dan mana yang rendah?

Menurut saya, Allah memerintahkan wanita berjilbab ketika keluar rumah atau berhadapan dengan cowo non mahroh adalah untuk menjaga kehormatan wanita supaya tidak dijadikan objek seksualitas cowo-cowo. Emang sih, mungkin cowo-cowo itu bersikap sopan, tetapi apakah kalian tahu, apa yang sedang dipikirkan mereka ketika melihat kalian?

Berbeda ketika seorang cewe memakai jilbab, bajunya tidak ketat atau longgar, dan menutupi seluruh auratnya. Seorang laki-laki yang sedang mengalami tingkat sensitifan seksual yang tinggi ketika melihat wanita itu, tidak akan timbut pikiran-pikiran yang berbau seksualitas. Karena hal-hal yang membuat kesinsitifan seksualnya meningkat, itu tertutup oleh jilbab dan pakaian yang wanita itu kenakan.

 

4. Apakah cukup hanya dengan memakai jilbab?

 

Misalnya, ada cewe namanya Mita. Mita ini sudah memakai jilbab, pakaiannya menutup aurat, dan kain pakaiannya tidak ketat atau kainnya tidak tembus pandang atau tidak menampakan bayangan bentuk tubuh. Singkat cerita, dia berpakaian seperti layaknya seorang muslimah yang taat. Apakah sudah cukup? Saya pikir belum. Jilbab bukan hanya secara fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan menjaga sikap, perkataan dan tingkahlaku. Menskipun si Mita sudah berpakaian seperti itu, tetapi misalnya ketika berjalan pinggulnya sengaja dilenggak-lenggokan dan kalau ngobrol sama cowo non-mahroh sering ngobrolin hal-hal mesum, yah percuma saja.

Jilbab hanya menutupi pintu masuk rangsangan melalui indra penglihatan bagi seorang laki-laki. Ini baru indra penglihatan, belum indra pendengaran dan indra peraba.

 

5. Apakah wajib pake kerudung yang gede kayak akhwat2 aktivis mesjid kampus itu? Boleh ga pake kerudung yang kecil?

 

Allah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31:

 

Katakanlah kepada wanita beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasanya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakan perhiasannya , kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budakyang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang berimansupaya kamu beruntung.”

 

Dalam kandungan ayat diatas ada perintah untuk memakai kain kerudung hingga menutupi dada. Jadi, kerudung yang dipakai tidak hanya menutupi rambut dan leher saja, tetapi harus sampai menutupi dada.

 

6. Kenapa kain kerudung harus sampai menutupi dada?

 

Jawaban singkatnya, karena itu adalah perintah Allah. Kalau perintah Allah kita hanya ‘sami’na wa atha’na ‘ atau kami dengar dan kami taat. Yakinlah bahwa semua perintah Allah itu pasti ada manfaatnya. Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali ada manfaatnya dan ada mudharatnya atau mafsadatnya bila dilanggar. Itu adalah motto orang yang beriman.

Aku coba mencari-cari apa sebenarnya manfaat dari mengulurkan kerudung hingga menutupi dada. Aku coba tanya-tanya pada orang yang berilmu dan coba mencari-cari referensi buku. Setahu aku manfaat dan mafsadatnya adalah seperti yang akan kujelaskan dibawah ini:

  1. Aku pernah membaca sebuah hadist yang intinya menerangkan bahwa jika seorang wanita keluar rumah dan di depannya ada seorang laki-laki, maka setan akan berada di dada wanita itu (untuk menggoda penglihatan si laki-laki supaya pandangannya tertuju pada dada), dan bila laki-laki ada di belakang wanita, maka setan ada di pinggul wanita tersebut (setan menggoda laki-laki itu untuk melihat goyang pinggul wanita tersebut ketika berjalan).
  2. Jujur aku sadari sendiri dan begitu juga semua laki-laki yang aku tahu, mereka baik secara terang-terangan ataupun tersirat mengakui bahwa ada dua bagian dari tubuh perempuan yang jadi favorit untuk dilihat bahkan kadang-kadang bisa menimbulkan nafsu syahwat. Bagian itu adalah besar serta bentuk payudara dan pinggul. Meskipun dua bagian itu sudah ditutup oleh pakaian, tetapi bentuk dan besarnya bisa teramati, maka masih bisa menimbulkan potensi untuk meningkatnya nafsu syahwat bagi seorang laki-laki. Kalau kita pernah lihat film Dono-kasino-indro, atau film-film yang mesum atau agak mesum, biasanya yang selalu menjadi sorotan kamera atau objek melihat aktor pria dari seorang aktris perempuan adalah bagian payudara dan pinggul aktris perempuan (terutama ketika aktris itu sedang memerankan akting berjalan). Dan memang kenyataannya seperti itu. Bagiku sebagai seorang laki-laki adalah normal ketika seorang laki-laki tertarik melihat pinggul wanita atau bagian dada meskipun itu tertutup kain.

Jadi, kesimpulan yang bisa kuambil, bahwa tujuan mengapa kerudung harus diulurkan sampai kedada adalah untuk menyamarkan bentuk dan besarnya payudara. Begitu juga kenapa pakaian wanita harus longgar tidak boleh ketat, karena untuk menyamarkan lekuk tubuh dan bentuk pinggul serta menyamarkan goyang pinggul ketika wanita berjalan. Sebenarnya inti dari tujuan semua ini adalah untuk menjaga kehormatan dan harga diri wanita dimata seorang pria.

 

7. Kenapa aurat perempuan lebih banyak daripada aurat laki-laki (aurat perempuan: semua bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan, mazhab Maliki berpendapat telapak kaki sampai mata kaki wanita bukan aurat; aurat laki-laki: hanya dari pusar sampai lutut, bahkan Imam Malik berpendapat bahwa paha laki-laki bukan aurat)

 

Kalau menurut saya, seperti yang saya tulis diawal tulisan ini, bahwa indra yang sangat sensitif menerima rangsangan bagi seorang laki-laki adalah penglihatan, sehingga hanya dengan melihat seorang wanita pada bagian-bagian yang pernah saya sebutkan diatas, nafsu syahwat seorang laki-laki bisa langsung meningkat. Berbeda dengan perempuan, dimana indra perabanya sangat sensitif menerima rangsangan. Hal ini bukan berarti indra penglihatannya tidak sensitif. Indra penglihatannya tetap sensitif tetapi hanya pada bagian tubuh tertentu pada pria yang jumlahnya lebih sedikit, misalnya ketika melihat paha atau kemaluan laki-laki. Oleh karena itu, seorang laki-laki minimal harus menutup bagian paha dan kemaluannya ketika berhadapan dengan wanita yang bukan istrinya.

 

8. Kenapa banyak anak perempuan dan istri tokoh-tokoh umat Islam seperti KH Abdurahman Wahid, Amien Rais, KH A. Badawi (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah), atau aktivis-aktivis ‘Aisyiah dan Muslimat NU tempo dulu banyak ga pakai jilbab yang tertutup atau hanya memakai kerudung tetapi rambut dan lehernya masih kelihatan?

 

Sebuah pertanyaan yang sulit saya jawab. Tetapi pertanyaan ini sering ditanyakan oleh orang yang awam atau aktivis dakwah bahkan oleh sebagian wanita sering dijadikan alasan untuk tidak memakai jilbab. Sebuah pertanyaan yang harus saya cari jawabannya.

Pertanyaan ini pernah ditanyakan pada Prof. Dr Yunahar Ilyas, Lc. oleh seorang peserta wanita Pengajian Mahasiswa kamis pagi di Aula PP Muhammadiyah Jl. Cikditiro, Yogyakarta. Inti jawaban beliau adalah bahwa ada  dua kemungkinan:

  1. mereka adalah penganut mazhab minoritas para ulama yang menyatakan bahwa rambut sampai leher itu bukan aurat peempuan. Atau penganut mazhab yang menyatakan bahwa rambut, leher, tangan, dan betis perempuan adalah aurat yang ringan, sehingga kalau tidak ditutup hanya menimbulkan dosa kecil, tetapi kalau ditutup akan mendapat pahala. Tetapi pendapat ulama-ulama seperti itu sudah banyak  sekali dibantah oleh para ulama.
  2. Mereka sudah tahu dan faham tentang masalah wajibnya memakai jilbab bagi seorang muslimah, tetapi tokoh-tokoh itu belum bisa menyadarkan istri dan anak-anak perempuannya untuk memakai jilbab.

9. Lalu seperti apa pakaian atau jilbab yang wajib dikenakan oleh seorang wanita? Bolehkah cewe pakai celana jins ketat?

 

Jawaban dari pertanyaan ini, sudah saya singgung ditulisan ini, tetapi masih sebagiannya saja, masih banyak yang belum saya sebutkan. Untuk jawaban secara kumplitnya mari kita diskusikan bersama. Bagi yang tahu, silahkan menuliskannya di kolom komentar di bawah tulisan ini.

 

Kesimpulan

 

Inti tulisan yang saya buat ini adalah bahwa saya ingin menyampaikan kepada teman, sahabat, dan saudari-saudari saya (yang masih awam dan ragu untuk memakai jilbab) tentang tujuan atau hikmah dibalik perintah memakai Jilbab bagi perempuan. Saya hanya menuliskan sebatas yang saya tahu, yaitu supaya mereka mudah dikenali sebagai seorang muslimah, untuk meminimalisir potensi diganggu oleh cowo-cowo iseng, dan untuk memelihara harga diri serta kehormatan seorang perempuan dimata pria.

 

 

Muhammad Surya

Anggota Lembaga Studi Gender & HAM

Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah DIY

2009-2010

Oleh: lsgham | Mei 1, 2009

Pengantar Kajian Poligami dalam Islam

Sebenarnya, saya berniat akan beristri hanya satu karena saya sadari sendiri, bahwa saya tipe pria yang setia. Buktinya, ketika saya sedang menaksir atau berniat melamar pada seorang wanita (seperti sekarang sedang saya  alami), ya saya hanya  fokus pada wanita itu. Kalaupun dijalan saya melihat ada wanita yang cantik atau di mesjid saya menemukan wanita yang sholehah yang mungkin serba lebih dari wanita yang jadi target saya, ya seperti wajarnya lelaki yang normal, saya akan ada rasa suka pada wanita-wanita itu. Tetapi itu hanya akan ada sampai di pikiran saya saja. Di hati saya hanya ada satu wanita yang menjadi target saya.

Meskipun demikian, aku tidak akan menolak praktek Poligami selama praktek poligami itu sesuai dengan syarat dan praktek yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Yang terjadi sekarang, kebanyakan praktek poligami keluar dari kolidor praktek Poligami yang diajarkan oleh Agama Islam, seperti mengumpulkan istri dalam satu rumah hanya beda kamar, suami lebih lama tinggal di Istri yang lebih dicintainya daripada di Istrinya yang lain, tidak adil dalam pembagian harta, berpoligami hanya untuk memuaskan nafsu seksual, suami bermesraan dengan salah satu Istri didepan istri yang lain, dan masih banyak lagi.

Banyak suami yang melakukan poligami beralasan dengan atas nama agama tetapi mereka tidak mempraktekan poligami yang dituntunkan oleh Agama. Para pria itu hanya tahu bahwa poligami itu hukumnya boleh (mubah) dalam agama tetapi mereka tidak melanjutkan pengetahuan mereka atau kajian mereka pada masalah syarat poligami, dan adab/ praktek poligami yang disyariatkan. Sehingga mereka tidak faham tentang larangan-larangan dalam poligami, kewajiban-kewajiban Suami yang poligami, hak-hak para Istri yang dipoligami, dan hak-hak para anak hasil pernikahan poligami. Hal-hal inilah yang jadi penyebab kenapa praktek poligami di Indonesia terkesan buruk dimata kebanyakan masyarakat khususnya para wanita.

Aku pernah bertanya pada beberapa teman wanita di kampus tentang masalah poligami. Semua sepakat menyatakan menolak poligami. Anehnya, ketika aku iseng bertanya, “Kalau tiba-tiba Bapak B (dosen Manajemen Keuangan, yang terkenal dosen paling ganteng di FEB UGM, yang menjadi Dosen idola mahasiswi di kampusku itu, beliau sudah menikah dan punya anak) melamar kamu menjadi istrinya yang kedua, kira-kira kamu menerima ga?” Kebanyakan mereka kelihatan ragu untuk menjawab tidak, bahkan ada yang menjawab. “ah, itu mah Cuma mimpi.” Nah loh…!!! maksudnya????

Saya pernah mendapatkan cerita dari seorang teman yang baru bertemu dengan dosennya yang bernama Pak I yang juga dosen saya di mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah 2. Ceritanya, setelah beberapa tahun Pak I menikah, tiba-tiba ada mahasiswinya yang suka sama Pak I. Mahasiswi tersebut saking suka atau nge-fans-nya sama Pak I, menyatakan pada Pak I bahwa dirinya siap menjadi istri beliau yang kedua. Pak I tidak langsung mengiyakan permintaan mahasiswi tersebut, tetapi mengkomunikasikannya dulu sama istrinya. Suatu hari pak I memanggil mahasiswi tersebut untuk keruangannya. Mahasiswi tersebut memenuhi panggilan tersebut. Ketika  membuka pintu ruangan pak I, dia melihat ternyata diruangan tersebut sudah ada istri Pak Irfan. Karena takut, mahasiswi tersebut tidak jadi masuk malah lari meninggalkan ruangan tersebut.

Dari kisah diatas saya berkesimpulan bahwa: “Poligami bukan hanya karena ada niat dari si pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah….waspadalah….”

Dalam masalah poligami, yang selalu disalahkan adalah pria. Padahal poligami terjadi karena ada permintaan dari pria-pria yang ingin menikah lagi dan ada penawaran dari para wanita yang siap jadi istri kedua, ketiga, atau keempat. Tidak akan terjadi poligami kalau hanya ada pria saja yang ingin poligami dan tidak ada wanita yang mau menjadi istri kedua dan seterusnya.

Biasanya wanita itu kalau sudah jadi istri pertama, kecenderungannya untuk menolak suaminya nikah lagi. Tetapi kalau dia belum menikah dan belum juga dapat jodoh, tiba-tiba ada pria yang sudah beristri melamarnya, banyak wanita itu yang mau dijadikan istri kedua. Hal inilah yang mengakibatkan praktek poligami ada yaitu ada permintaan dan ada penawaran.

Sebenarnya, praktek poligami sudah ada sebelum ajaran Islam muncul. Poligami sebelum Islam muncul tidak memiliki aturan, sehingga pria boleh punya istri sebanyak yang dia mau dan memperlakukan istri-istrinya semaunya mereka. Islam muncul untuk mengatur masalah poligami ini. Persyaratan poligami pun diperketat. Diatur kewajiban dan hak dari suami, para istri, dan anak-anak hasil poligami. Serta dibatasi jumlah wanita yang boleh dinikahi. Islam tidak melarang poligami tetapi mengatur poligami supaya tidak ada pihak yang terdhalimi.

 

Kondisi Ketika Ayat Al Quran tentang Poligami Turun

 

Ayat tentang poligami turun ketika situasi umat Islam dikepung oleh musuh-musuhnya yang tidak rela Islam berkembang, seperti Romawi di utara, persia di timur, orang kafir Quraisy mekkah di selatan, dan banyak suku-suku lainnya. Perang sering terjadi. Banyak timbuk korban perang. Korban mati dalam perang kebanyakan adalah pria. Sehingga jumlah pria di kota madinah semakin hari semakin berkurang. Hal ini mengakibatkan semakin banyaknya janda-janda perang dan anak-anak yatim. Mereka sangat butuh kehadiran seorang pria disisi mereka. Janda-janda perang itu banyak yang setelah suaminya meninggal di medan perang, hidupnya jadi tidak terawat. Mereka harus mengurus keluarga dan bekerja sendirian, tidak sempat baginya memikirkan diri mereka sendiri. Untuk menolong janda-janda perang tersebut, banyak sahabat Nabi yang menikahi mereka dengan niat menolong.

Dalam buku Bapak Quraisy Syihab yang berjudul Perempuan, beliau mengisahkan bahwa setelah setelah perang dunia kedua selesai, para wanita di Jerman berdemo supaya diperbolehkannya poligami untuk beberapa waktu yang terbatas. Hal ini terjadi karena paska perang dunia kedua jumlah pria di Jerman sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah wanita. Lebih dari tujuh juta pria Jerman mati dalam perang tersebut. Tetapi pemerintah dan gereja tidak mengizinkan poligami walaupun untuk waktu yang terbatas. Apa akibatnya? Perselingkuhan terjadi diseantero jerman. Perzinahan dimana-mana. Banyak anak yang lahir tanpa ada kejelasan siapa ayahnya. Menurut Anda, mana yang lebih baik diterapkan dalam kondisi seperti itu, Membolehkan poligami atau melarang poligami? Poligami biasanya akan menjadi solusi dalam kondisi paska perang.

 

Mungkinkan Adil dalam masalah Hati

 

Saya pernah dengar dari seorang aktivis perempuan yang menolak poligami mengatakan bahwa suami yang poligami harus adil dalam berbagai hal, seperti yang disyaratkan dalam suatu ayat di dalam Al-Quran, dan tidak mungkin ada pria yang bisa adil dalam masalah hati. Hati pria yang poligami akan lebih condong (lebih cinta dan sayang) pada salah satu dari istri-istrinya. Karena tidak mungkin adil dalam masalah hati, poligami jadi tidak boleh.

Apakah benar tidak mungkin adil dalam masalah hati? Orang yang beriman haruslah memiliki keyakinan bahwa tidaklah mungkin Allah SWT mensyariatkan sesuatu pada hambanya yang tidak dapat dilakukan oleh hambanya itu. Tidaklah mungkin Allah membolehkan poligami kalau poligami itu tidak akan ada hambanya yang mampu melakukannya. Tidak mungkin Allah memerintahkan hambanya yang poligami untuk berlakuk adil kalau Allah tahu, tidak akan ada hambanya yang mampu berlaku adil. Allah mensyaratkan orang yang poligami itu mampu berlaku adil dan bila tidak mampu untuk berlaku adil maka hanya boleh beristri satu. Adil disini adalah adil dalam berbagai aspek termasuk adil halam hal masalah hati.

  Dalam masalah adil dalam masalah hati ini, saya pernah mendengar sebuah argumentasi dari salah seorang ustad yang coba menerangkan mungkinnya adil secara hati. Beliau menganalogikan seperti ini, kalau ada seorang ibu yang baru punya anak, tentunya akan sayang dan cinta sekali pada anak yang pertama itu bukan? Lalu dua tahun kemudian ibu itu melahirkan lagi anak kedua. Tentu ibu itu juga sangat sayang dan cinta pada anaknya yang kedua. Lalu, apakah sayang dan cintanya pada anak kedua mengurangi rasa cinta dan sayang pada anak pertama? Tentu tidak bukan? Hal ini membuktikan bahwa rasa cinta dan sayang bisa dibagi dua. Yang jadi masalah kemudian, kadang  suka terjadi kecemburuan dari anak pertama pada anak kedua karena ibunya lebih sering menggendong atau bersamai anak kedua daripada dirinya. Padahal dihati sang ibu sama-sama sayang dan cinta pada kedua anaknya itu. Ibu tersebut lebih sering bersamai anak kedua karena dia anak yang masih belum bisa apa-apa jadi butuh perhatian yang lebih. Adil bukan berarti sama banyak, tetapi disesuai dengan situasi, keadaan dan kondisi.

Dalam kaitannya dengan poligami, kebanyakan istri pertama tidak rela membagi kasih sayang suaminya dengan wanita lain. Dia sudah lama merasakan kasih sayang yang penuh dari suaminya tiba-tiba harus berbagi dengan wanita lain. Tidak mudah memang bagi seorang istri untuk berbagi kasih sayang dengan wanita lain. Hal ini hampir sama dengan analogi diatas, dimana untuk beberapa waktu, anak pertama tidak rela membagi kasih sayang orang tuanya dengan adiknya.

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa pengertian adil yang dimaksud tersebut adalah adail dalam hal-hal yang sifatnya kongkrit atau dapat dilihat bukan adil yang bersifat batin atau sulit dilihat. Misalnya adil dalam masalah harta, pembagian waktu kunjung suami kepada istri-istrinya dan lain-lain.

Meskipun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, kita sebagai umat muslim dilarang untuk mengharamkan apa yang telah Allah dan Rasul-Nya halalkan dan menghalalkan apa yang telah Allah dan Rasul-Nya haramkan. Atau mengimani satu ayat dan mengingkari ayat yang lain. Allah telah menghalalkan poligami dengan berbagai persyaratan dan ketentuan prakteknya. Jangan sampai kita mengigkari itu. Kalaupun masalah perbedaan pendapat itu hanyalah dalam hal penafsiran kata adil dalam ayat tersebut.

Yang menjadi tugas para ulama, dai, mubaligh dan ustad adalah mereka harus memahamkan umat mengenai masalah poligami ini. Tidak hanya menjelaskan bahwa poligami itu boleh, tetapi lebih jauh dari itu, mencakup syarat poligami dan mengenai hak dan kewajiban setiap pribadi yang ada dalam keluarga poligami. Yang paling penting adalah menjelaskan hal-hal yang dilarang dilakukan oleh suami yang melakukan poligami. Karena hal-hal yang dilarang ini lah yang menurut pengamatan saya sering dilakukan oleh pria-pria yang berpoligami.

 

Kalau Boleh Usul

 

Kalau saya boleh usul, lebih baik KUA sebelum mengijinkan seorang pria berpoligami, terlebih dahulu dilakukan tes uji kelayakan poligami. Kalau tidak layak, maka jangan diizinkan menikah lagi. Kalau layak, baru diberi sertifikat lulus uji kelayakan poligami. Tidak hanya itu, KUA juga sebelum menikahkan suami tersebut, suami tersebut harus ditraining manajemen poligami agar setelah berpoligami bisa menjalankan keluaga poligami dengan baik dan tidak bertentangan dengan ketentuan ajaran agama.

 

Misi dan Kesimpulan yang Diharapkan

 

Misi saya melakuakan kajian masalah poligami adalah untuk mensosialisasikan ajaran Islam mengenai poligami yang mencakup syarat poligami, hak dan kewajiban setiap individu dalam keluarga poligami, larangan-larangan dalam poligami, dan alasan-alasan yang diperbolehkan untuk poligami. Kesimpulan akhir yang saya harapkan dari kajian ini adalah

“Pikir dulu SERIBU KALI sebelum menolak poligami dan pikir dulu SEJUTA KALI kalau mau berpoligami*.”

 

 

Keterangan:

* Kesimpulan ini saya ambil dari kesipulan buku yang ditulis oleh M. Shodiq Mustika, DKK. dalam buku berjudul “Seandainya Saya Istri Aa Gym” yang diterbitkan oleh penerbit Hikmah (kelompok Mizan).

 

  

Muhammad Surya

Sekretaris Lembaga Studi Gender dan HAM

Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Daerah Istimewa Yogyakarta

Kategori